Alkisah di sebuah negeri entah berantah ada sebuah perusahaan penerbangan bernama Mendem Air. Perusahaan ini dinamai begitu karena dari komisaris, direksi, hingga pilotnya dalam keadaan mendem alias mabuk.

Komisaris dan direksinya mabuk, mengira pesawat terbang itu sama dengan bajaj, hanya mentang-mentang corporate colornya sama-sama orange.

Karena mengira pesawat terbang itu mirip bajaj, mereka pun enggan merawat wahana angkasa itu secara rutin. Pokoknya asal bisa terbang. Ngadat dikit tak masalah.

Masalah terjadi ketika pilotnya ikut-ikutan mabuk. Mereka nekat terbang tanpa bantuan komputer dan panduan radar. Walhasil, nyasarlah pesawat yang dikemudikannya ke tempat yang bukan seharusnya.

Untung, regulator penerbangan dalam negeri tak memberi mereka sanksi atau hukuman. Mendem Air tetap boleh beroperasi. Toh penumpang tak kapok apalagi takut naik pesawat yang mendem.

Rupanya, takdir bicara lain. Komisaris, direksi, dan pilotnya maskapai itu kian mendem tak keruan. Akhirnya salah satu pesawat mereka jatuh lagi.

Untung tak ada korban. Pilotnya rupanya merem, memejamkan mata sewaktu hendak mendarat. Ia tak peduli cuaca buruk. Pokoknya asal mendarat karena bahan bakar menipis.

Alhasil, pesawat yang dikemudikan pilot sambil merem itu pun menghunjam landasan dan melengkung. Untung tak ada korban.

Untuk mengubah nasib buruk, manajemen maskapai memutuskan ganti nama perusahaan menjadi seperti ini.